“Deep Skin – Skin Deep”, karya mutakhir Gusmen Heriadi yang akan tampil di Ciptadana Art 2018/2019 - Indeks Media

Wednesday, November 21, 2018

“Deep Skin – Skin Deep”, karya mutakhir Gusmen Heriadi yang akan tampil di Ciptadana Art 2018/2019

gusmen-heriadi-ciptadana-art

Jakarta 22 November 2018 – Tahun ini Ciptadana Art Program kembali hadir dan menampilkan karya-karya dari seniman asal Sumatera Barat yang kini menetap dan berkarya di Jogjakarta, Gusmen Heriadi. Gusmen Heriadi lahir pada tahun 1974 di Pariaman, Sumatra Barat dan lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) pada tahun 2005.

Sebagian besar objek yang diangkat oleh Gusmen di dalam karya-karyanya merupakan wujud metafora dari perasaan dan perdebatan mengenai isu budaya dan tradisi dalam kehidupan modern bermasyarakat. Sebagian besar karya yang diciptakan adalah bukti nyata dari beragam impian, tanggapan perihal kehidupan dan padangan filosofis sang seniman. Pemikiran filosofis dan kritis yang banyak ditampilkan dalam karya-karyanya merupakan hasil dari perkembangan kultur dan budaya disertai kebiasaan sehari-hari dan pengaruh dari luasnya pergaulan seni dan proses pembelajarannya.

Emmo Italiander, selaku kurator seni pameran Ciptadana Art program menjelaskan “Sebagaimana kami kerap menampilkan dari tahun ke tahun, Ciptadana Art program kembali hadir dalam mempromosikan dialog yang menjembatani komunitas bisnis di Indonesia dan dunia seni yang dinamis. Gusmen kerap menampilkan karyanya dalam dua dekade terakhir dan kami sangat antusias untuk dapat menampilkan karya-karya sang seniman didalam program kami tahun ini”.

Dalam karyanya saat ini, Gusmen Heriadi mengeksplorasi kebanggaan akan ‘identitas’ manusia dan bagaimana kebanggaan tersebut berdampak pada lingkungan dan kehidupan makhluk lainnya melalui pendefinisian dari segi ‘esensi’ dan‘status’.

Sang seniman mengilustrasikan ‘esensi’ sebagai sesuatu yang mendefinisikan manusia dan semua makhluk hidup di sekitarnya. Apa saja kah hal yang membentuk kita? apa yang memisahkan kita? apa yang kita bagikan? Dan tentu saja, apa yang kita abaikan?

Sikap dan rasa hormat terhadap semua makhluk hidup harus sama, tapi sebagaimana dinyatakan oleh para babi penguasa dalam ‘Animal Farm’ karangan penulis ternama George Orwell, “Semua hewan memang setara, tapi beberapa lebih setara daripada yang lainnya”. Di dunia kita, ‘esensi manusia’ adalah segalanya, saat semua makhluk lain dianggap sebagai barang komoditas atau konsumsi. Kurangnya rasa hormat dapat membahayakan masa depan semua makhluk di muka bumi.

‘Status’ sejatinya berhubungan dengan penempatan individu dalam hubungannya dengan individu lain di sekitarnya, terutama terkait dengan posisi sosial maupun profesional dan terkait dengan keadaan dan situasi.

Bagi sebagian besar manusia, status menggambarkan posisi mereka di dalam komunitas dan kehidupan bermasyarakat, baik berupa keberhasilan, pencapaian, ataupun kepemilikan. Bagi hewan, status sifatnya lebih kritis karena menentukan posisi mereka pada rantai evolusi dan kesintasan; terancam, dihargai atau bahkan rentan.

Dalam upaya meraih status yang seringkali dilakukan dengan segala cara, manusia bisa keliru menerapkan nilai menurut persepsi merupakan nilai sejati sehingga mengorbankan dan menguras sumber daya yang berharga atau bahkan seluruh spesies dalam upaya untuk membuat manusia lain terkesan dan memanjakan ego mereka sendiri.

Sumberdaya yang terbatas terancam habis akibat gengsi yang tak terbatas.

Sang seniman Gusmen Heriadi menjelaskan “Pada akhirnya, perilaku seperti ini yang saya amati menyebabkan kelelahan dalam menghadapi kesia-siaan yang tak terbatas. Baik ‘esensi’ maupun ‘status’ menentukan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita.

Melalui berbagai eksplorasi, saya mencoba menerjemahkankondisi manusia yang sayaamatiini ke berbagai lukisan dan karya seni yang akan dipamerkan di Ciptadana Art Program tahun ini ” Dikuratori oleh Emmo Italiaander dan Sudjud Dartanto, “DeepSkin – SkinDeep” yang ditampilkan oleh Ciptadana Art Program tahun ini memberi kesempatan bagi para pecinta seni di Indonesia untuk berbagi pikiran, ide, dan impian dengan seniman Gusmen Heriadi. Pameran dibuka untuk umum mulai Kamis 22 November 2018 sampai dengan Jumat 14 Desember 2018 setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore bertempat di Ciptadana Art Space lantai 5 Gedung Ciptadana Center.

gusmen-heriadi

Tentang Ciptadana Art Program

Ciptadana Art Program hadir gunamempromosikan dialog mendalam antara komunitas bisnis dan dunia seni yang dinamis di Indonesia. Ciptadana percaya akanterciptanya hasil yang positif jika pelaku bisnis secara aktif terlibat dengan seniman dalam mengapresiasi budaya, dan seni.

Hal tersebut tentunya dapat memberikan inspirasi, wawasan, dan sinergi antar keduabelah pihak. Melalui kerjasama dengan seniman ternama dalam memberikan apresiasi terhadap karya seni yang memukau, Ciptadana mencoba memberikan perspektif baru dalam melihat dan berinteraksi dengan para pemangku kepentingan, lingkungan bisnis dan juga semerta-merta untuk lebih meningkatkan citra perusahaan.

Program ini pertama kali diinisiasikan oleh Emmo Italiaander, creative director yang juga merupakan kurator dan produser acara ini selama 7 tahun.

Tujuan utama dari Ciptadana Art Program adalah memperkenalkan karya seni yang indah dan menyegarkan namun menginspirasi dan mendidik.

Ciptadana Art Program merupakan acara tahunan, dimana seniman atau sekelompok seniman di bawah arahan kurator melaksanakan pameran tunggal maupun kelompok di CIptadana Art Space, lantai 5 Gedung Ciptadana.

Program ini meliputi pameran yang berlangsung selama dua minggu; ‘meet the artist’ talk bersama seniman, dan satu hari penuh media tour dengan seniman yang karyanya sedang ditampilkan.

Berikut adalah nama-nama para seniman yang telah berpartisipasi dalam pameran di Ciptadana Art Space di tahun-tahun sebelumnya :

2011/2012 : Hanafi ( pameran solo )

2012/2013 : Sunaryo ( pameran solo )

2013/2014 : PandeKetut Taman ( pameran solo )

2014/2015 : Filippo Sciascia ( pameran solo )

2015/2016 : Ichwan Noor, Anusapati, HediHaryanto, A. Simatupang, T. Supriyono

2017/2018 : Made Wianta ( pameran solo )

2018/2019 : GusmenHeriadi (pameran solo)

 

Untuk mengetahui lebih lanjut mohon menghubungi:

Maya Sujatmiko

PR & Communication Ciptadana Art Program

mayasujatmiko@gmail.com

08161156000

 

Profil Gusmen Heriadi

GUSMEN HERIADI

gusmen-heriadi

Born in Pariaman, West Sumatra,18 August 1974

Email : gusmen.heriadi@gmail.com

IG : @gusmenheriadi

FB : Gusmen Heriadi

Telp : +6281328339928

 

Education

2005 – Graduated from Indonesia Institute of Art ( ISI ) Yogyakarta, Indonesia

1994 – Graduated from SMSR Padang Indonesia

Awards:

2017 – Best Works BAKABA #6 Sakato Art Community, Yogyakarta, Indonesia

2006 – Special Appreciation of Jakarta Art Award, Indonesia

2002 – Finalist of Indofood Art Award, Indonesia

2000 – Finalist of Philip Morris Art Award, Indonesia

1998 – Finalist of Philip Morris Art Award, Indonesia

1997 – The Best Acrylic Painting, ISI Yogyakarta, Indonesia

1996 – The Best Watercolor Painting, ISI Yogyakarta

 

Solo Exhibition:

2010 – Tamu, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia

2005 – Problema Masyarakat Kota, ISI Yogyakarta, Indonesia

 

Groups Exhibition :

 

2018 Kama Bang Kama Pethak” MJK Art Community, Bentara Budaya Bali , “Kapacak” Tambo#3 ,Bukit Tinggi-Sumatra Barat ,September Art Project #1 ,Studio Jaring ,Batu Malang, “Sintesis” MJK Art Community ,Breeze Art Space/Art Serpong Gallery Tangerang ,Spektrum Hendra Gunawan ,Ciputra Artpreneur ,Jakarta ,“Zaman Now” Bakaba#7 ,Sakato Art Community, Jogja Gallery Yogyakarta ,Between Abstraction and Figuration, Nadine Fine Art,Malaysia ,Sketsa dan Drawing , Latar Art Space-Jakarta 2017 Knowing Incompleteness, Gajah Gallery-Yogyakarta, Menolak Sekaligus Merengkuh, Nadi Gallery-Jakarta, “INDONESIA” BAKABA #6,Sakato Art Community, Jogja Gallery, Indonesia, In Material, RuangDalam Art House, Yogyakarta-Indonesia, “Bergerak”, Yogya Annual Art #2, Bale Banjar Sangkring, Yogyakarta, Art-Tivities Now. Breeze Art Space BSD Serpong Jakarta Indonesia 2016 Pameran Seni Rupa AKAP, Jogja Gallery, Jogjakarta Indonesia, BAZAR ART JAKARTA, Jakarta, Indonesia, Sapiens Free, OHD Museum ,Magelang Indonesia, Cadiak indak mambuang Pandai, BAKABA#5 Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta. Indonesia, Universal Free, ARTJOG 9,Jogja Nasional Museum. Indonesia, ArtStage 2016 Singapore

  • SHOUT! 2015 Mapping Melbourne 2015 Independent Contemporary Asian

Arts,The Meat Market Stables, Sydney Myer Asia Centre, Melbourne, Australia, BAZAAR ART JAKARTA, Jakarta, Indonesia, BAKABA #4 “Randang dan Rendang” SAKATO komunitas seni. Jogja Gallery-Yogyakarta Indonesia, “DRAWING, Gambar Hitam Putih yang Menggugah”, Museum Dan Tanah Liat,Yogyakarta Indonesia 2014 Symbol, Spirit, Culture. Celebrating 30 years of Edwin’s Gallery Jakarta Indonesia, BAZAAR ART JAKARTA, Jakarta, Indonesia ,Korea International Art Fair, Seoul, South Korea, SHOUT! Indonesian Contemporary Art ,MACRO Museum,Rome,Italy, Art Expo Malaysia,Kuala Lumpur.Malaysia, BAKABA#3 “KINI” SAKATO Art Community. Jogja Gallery,Yogyakarta 2013 Homoludens#4,Emmitan CA Gallery-Bentara Budaya Bali ,BAKABA#2 “Antara pintu & Halaman” Sangkring art space.Yogyakarta.Indonesia, Crossing Contemporary Cultures,MiFA Asian Pacific Contemporary Art Melbourne.Australia 2012 Kembar Mayang, Museum H.Widayat, Magelang Indonesia ,Nagari Ngayogyakarta Hadininggrat, Jogja Nasional Museum. Indonesia, Free Kick,Royal Art Residence,Surabaya.Indonesia, The Moment, 5 Pan Asian Artist, PIN Gallery, Beijing, China, Bazaar Art Jakarta 2012, Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, ARTJOG12 Looking East A Gaze Upon Indonesian Contemporary Art Yogyakarta, Indonesia ,Vertigo, The Indonesia Ugliness, Ode to Art, Singapore 2011 The Everyday Fantastic, S. Bin Art Plus, Singapore, Art Stage Singapore, Singapore, Homo Ludens # 2, Emmitan ca gallery. Surabaya,indonesia, ArtJog 11, Taman Budaya Yogyakarta, Indonesia

2010 Korea International Art Fair, Coex, Seoul, South Korea, No Direction Home, organized by Edwin’s Gallery, Galeri Nasional Indonesia,Jakarta, Indonesia, Space and Image, Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta, Indonesia, Bakaba, with Sakato Group, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia, ArtJogl11. “Indonesian Art Now : The Strategies Of Being” Taman Budaya,Yogyakarta, Indonesia, Biennale Jogja X, Jogja Jamming Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia 2009 Reality Bites, 25th Anniversary of Edwin’s Gallery, Edwin’s Gallery, Jakarta,Indonesia, Bazaar Art Fair, Ritz Carlton – Pacific Place, Jakarta, Indonesia, Highlight of Edwin Raharjo’s Collection, the Galeri Nasional Indonesia, Jakarta-Indonesia, In Rainbow, Esa Sampoerna Art House, Surabaya, Indonesia,

C-Art Show, Grand Indonesia, Jakarta, Indonesia 2008 Manifesto, Galeri National Indonesia, Jakarta, Indonesia, Indonesia, 4 Leaps, Biasa Art Space, Bali, Indonesia, A New Force of South East Asia:Group Exhibitions of Indonesian Contemporary Artists, Asia Art Centre, Beijing, China, IVAA Book Aid Vol.2, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia, Gusmen Heriadi & Tommy Wondra , Soheon Gallery, Korea, Gusmen Heriadi & Tommy Wondra , Nine Gallery, Gwangju, Korea, Gusmen Heriadi & Tommy Wondra, Godo Gallery, Soul, Korea 2007 Neo-Nation, Jogja Biennale IX, Taman Budaya, Yogyakarta, Indonesia, Fund Raiser 2007: An Endowment for the Future, Hong Kong, Inspiring Indonesian Contemporary Art, Organized by Media Visual Art,Shanghai Art Fair, China, Indonesian Contemporary, 1918 ArtSpace, Shanghai, China, Bung Ayo Bung, Museum Affandi, Yogyakarta, Indonesia, Episode, Gusmen Heriadi & Tommy Wondra, Edwin’s Gallery, Jakarta,Indonesia, Common Grounds – A Glimpse of Indonesian Contemporary Art, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Indonesia 2006 Indonesia Traffic, Mon Décor Gallery, Jakarta, Indonesia, Kisi-Kisi Jakarta, Jakarta Art Award, Jakarta, Indonesia, Genta, Exhibition with Kelompok Seni Rupa Genta, Biasa Art Space, Bali-Indonesia 2005 Bazart, Benteng Vredeburg Museum, Yogyakarta, Indonesia, Melihat Jagat dari Kaliurang, Museum Ulen Sentalu Yogyakarta, Indonesia, Pencerahan, KSR Genta, Bentara Budaya, Yogyakarta, Indonesia, Re-reading Landscape, Sanggar Sakato, Nadi Galeri, Jakarta, Indonesia, Indonesian Contemporary, iPreciation, Singapore 2004 Menimbang Tradisi, Sanggar Sakato, National Gallery, Jakarta, Indonesia 2003 Interpelation, CP Open Bienalle, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Indonesia, 2002 Manusia Ambang Batas, Kelompok Seni Rupa Genta, Galeri Semarang,Semarang, Indonesia 1999 Pratisara Affandi, Galeri ISI, Yogyakarta, Indonesia, Kelompok SOLUSI 4, Dirix Art Galery, Yogyakarta, Indonesia, Kelompok SAKATO III, Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Indonesia 1998 Philip Morris Art Award, Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia, 1997 Kelompok SAKATO II, Purna Budaya. Yogyakarta, Indonesia 1995 SAKATO I, Purna Budaya, Yogyakarta, Indonesia.

No comments:

Post a Comment