SEJARAH BERDIRINYA KOTA MADYA SAWAHLUNTO - Indeks Media

Thursday, February 21, 2019

SEJARAH BERDIRINYA KOTA MADYA SAWAHLUNTO

Sejarah Berdirinya Nagari Kubang

Indeksmedia.com – Nagari kubang terletak di Kota Sawahlunto. Wilayah Nagari Kubang terdiri dari Desa Pasar Kubang, Kubang Tangah,Kubang Utara Sikabu, Kelurahan Kubang Sirakuak Selatan,Kubang Sirakuak Utara, Kelurahan Pasar, Aur Mulyo, Tanah Lapang, Air Dingin, Saringan, Lubang Panjang dan sebagian Kelurahan Durian Satu.

Nagari Kubang merupakan Konfederasi Sambilan Koto Di Mudiak dalam kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Nagari Kubang di sebelah barat berbatasan dengan Nagari Kajai dan Nagari Lunto. Sebelah timur berbatasan dengan Nagari Pemuatan (Kab.Sijunjung). Sebelah utara dengan Nagari Kolok, Sijantang, Nagari Sibarombang (Kab. Solok). Sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Pianggu (Kab. Solok) dan Nagari Silungkang.

Nagari-nagari Konfederasi 9 Koto Dimudiak antara lain; Nagari Kubang, Padang Sibusuak, Kolok, Sijantang, Talawi, Padang Ganting, Batu Manjulu, Pemuatan, Palangki, Muaro Bodi, Kabun Mundan Sakti, Koto Baru, Tanjung Ampalu, Palalua, Tanjuang Guguak, Padang Lawe Muaro Sijunjung (Tambo Alam Minangkabau oleh Ibrahim DT Sangoeno Dirajo, halaman 34). Nagari Kubang terdiri dari enam suku antara lain; Supanjang, Dalimo, Patopang, Payabadar, Panai dan Sikumbang.

Mata pencarian masyarakat Nagari Kubang tertumpu dengan hasil kebun terkenal dengan Durian Kubang, pertanian terutama padi dan ubi kayu. Disamping itu masyarakatnya juga mengolah kapuk menjadi benang dengan cara dipukul pakai rotan. Masyarakat juga berkebun Cengkeh dan dimasa cengkeh menjadi primadona maka pohon kapuk habis ditebang sehingga usaha pembuatan benang ditinggalkan. Namun pada tahun 1965 cengkeh terkena hama dan masyarakat Nagari Kubang pergi merantau untuk mencari penghidupan di daerah baru. Selanjutnya generasi berikutnya mata pencaharian masyarakat tertumpu kepada industri rumahtangga pembuatan kerupuk ubi dan bertenun Songket sampai saat ini.

Sawahlunto/Kota Kuali

Sawahlunto adalah Tanah Ulayat Nagari Kubang jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda menguasai tambang

batubara yang tertua di Nusantara. Asal nama Sawahlunto adalah daerah persawahan disepanjang aliran Batang Lunto (Sungai Lunto). Persawahan tersebut adalah SawatambilangTambilang Bosi Niniak Moyang Urang Kubang. Sawah batumpak di nan data ladang baliku tiok leriang berikut nama sawah tersebut antara lain ; Sawah Rawang di sekitar Pasar Remaja, Sawah Sianik di sekitar Kantor PT BA-UPO, Sawah Godang lokasinya sekitar Kelurahan Tanah Lapang, Sawah Limau Kapeh lokasinya sekitar SMP 1 Sawahlunto, Sawah Kobou Tuo (Kerbau Tua) lokasinya di sekitar Kubang Sirakuak, Sawah Auah (sawah Aur) lokasinya di sekitar StasiunKereta Api sekarang.

Sebelum Kolonial Belanda datang ke Sawahlunto masyarakat Nagari Kubang sudah menghuni cekungan Sawahlunto. Di sekitar rumah masyarakat dibangun Surau dan Mesjid sebagai sarana ibadah masyarakat. Adapun mesjid tersebut adalah, Mesjid Islam di bangun tahun 1852 di Kubang Sirakuak Utara dan Mesjid Alhidayah di bangun tahun 1854 di Air dingin.

PENGUASAAN TAMBANG BATUBARA OLEH KOLONIAL BELANDA

Datangnya Kolonial Belanda untuk mengeksploitasi kekayaan alam Ulayat Nagari Kubang yaitu batubara. Kolonial Belanda memberi nama Tambang Batubara Ombilin tahun 1892. Kolonial Belanda melakukan perjanjian dengan pihak Nagari Kubang untuk dapat melakukan aktivitas penambangan batubara diatas Ulayat Nagari Kubang yang dikenal dengan nama Perjanjian Pesta Adat.

Pihak Kolonial Belanda memberi atau membayar f 500 [limaratus golden ]untuk pesta adat kepada Nagari Kubang dan f 1 500 (seribu lima ratus golden) untuk di bagi bagi, yang diberitahukan melalui Surat Gubernur Hindia Belanda tertanggal 26 maret 1892 no.1695 yakni ke enam Penghulu di Nagari Kubang masing masing f 100 [seratus golden ]dan yang ke 18 kepala kepala lainnya, malin, manti, dan hulubalang dari nagari itu masing-masing f 50 (lima puluh golden).

Uang tersebut diberikan sebagai pengganti bunga kayu kepada nagari artinya tidak terjadi pelepasan hak atas Ulayat kepada Kolonial Belanda. Bunga Kayu adalah, Sebagaimana yang tertuang dalam ketentuan adat minangkabau,

Ditanah nan sabingka

kate ta tambun jantan

ka bawa takasiak bulan

Karimbo ba bungo kayu

Ka sungai ba bungo pasiah

ka lawik ba bungo karang

ka sawah ba bugo ampiang

ka tambang ba bungo ameh

Berdasarkan Pesta Adat tersebut Pihak Belanda sebagai pengarab (pengelola) mengeluarkan seper sepuluh dari hasil bersih (dalam sepuluh keluar satu) untuk Nagari Kubang, bukan pelepasan hak atas tanah Ulayat Nagari Kubang. Sedangkan uang yang diterima oleh nagari tidak setimpal dengan hasil bumi dan panen sawah masyarakat Nagari Kubang karena daerah yang di pakai untuk tambang batu bara adalah sawah terbesar dan terbanyak di Nagari Kubang.

PEMBENTUKAN PEMERINTAHAN SAWAH LUNTO

Pada tahun 1888 dibentuk Gemeente Sawahlunto. Pada zaman kemerdekaan kemerdekaan Gemeente itu diatur oleh Peraturan Presiden Nomor : 20 dan 21 Tahun 1946.

Pemerintah Nagari dan kelembagaan Daerah pada Tanggal 10 Maret 1949 mengadakan rapat dengan keputusan bahwa Pusat pemerintahan Afdealing Solok yang dahulunya berada di Sawah lunto dibagi menjadi Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dan Kabupaten Solok sehingga Pemerintah Stad Gemeente Sawahlunto dirangkap oleh Bupati Sawahlunto/ Sijunjung. Selanjutnya berdasarkan UU Nomor : 18 Tahun 1965 status Sawahlunto berubah menjadi daerah Tingkat II yang berdiri sendiri dengan sebutan Kotamadya Sawahlunto dengan Walikota pertama Achmad Noerdin, SH terhitung mulai 11 Juni 1965 melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 15 /2 / 13-227 Tanggal 8 Maret1965.

PERJUANGAN DAN PERLAWANAN KE NEGARIAN KUBANG LUNTO TERHADAP KOLONIAL BELANDA DI

SAWAHLUNTO

Setelah Pemerintah Kolonial Belanda mengeruk kekayaan alam perut bumi Ulayat Nagari Kubang namun perjanjian bagi hasil yang tertera dalam Pesta Adat tidak sesuai dengan kesepakatan.

Maka pada tanggal 1 Januari 1908 terjadi perlawan rakyat Nagari Kubang terhadap Kolonial Belanda di Sawahlunto yang dikenal dengan “Pemberontakan Tahun 1908”.

Tokoh masyarakat Kubang H. Aga Datuak Maharajo Kayo yang terkenal dengan nama Tuanku Khatib. Tuanku Khatib mengajak kerabatnya Tuanku Tempa dari Nagari Lunto untuk mengadakan perlawanan terhadap Kolonial Belanda di Sawahlunto.

Alhasil dikumpulkan para pendekar yang memiliki ilmu kebal di Nagari Kubang dan Lunto untuk mengadakan perlawanan terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda. Para pendekar berlatih ilmu perang dengan para guru mereka yang mana para guru veteran Perang Paderi pada tahun 1821 – 1838.

Adapun Perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh, Tuanku H. Khatib( Khatib ditangkap oleh Belanda terlebih dahulu), Tuanku Tempa, H. Abdulgani, Muin Bagindo Tan Ameh, Hasan Husin, Boga Matlahi, Adam Rangkayo Batuah, Manjalani Malano Dari, Muin Indo Marajo, Baki, Asi Bagindo Bunsu, Rasul Kotik Rajo, Taha Dubalang dan 500 orang masyarakat.

Penyerangan dilaksanakan pada tanggal 1

Januari 1908. Tercatat korban tewas di pihak Belanda sebanyak 84 orang sedangkan di pihak Nagari Kubang sebanyak 4 orang. Korban meninggal di pihak Nagari Kubang karena melangar larangan yang telah ditentukan oleh pemimpin perlawanan yakni

Tuanku Tempa. Larangan atau pantangannya

adalah; tidak boleh melangkahi mayat dan

tidak boleh mengambil harta kawan maupun

lawan.

Sedangkan polisi dan tentara Kolonial Belanda yang tewas 84 adalah polisi dan tentara bayaran.

Lokasi makam Pejuang Tahun 1908 sebagai berikut; Tuanku H. Khatib di halaman Mesjid Raya Baitun Nur Kubang, Tuanku Tempa di Batu Janjang kecamatan Bukik Sile Kabupaten Solok, H. Abdulgani di Tampan Pekanbaru Riau, Adam Rangkayo

Batuah di Surau Rawang Dusun Batu Tajam, Asih Bagindo Bunsu di Panto Desa Kubang Utara Sikabu, Muin Bagindo Tan Ameh di Panto Desa Kubang Utara Sikabu, Baki di Panto Desa Kubang Utara Sikabu dan Muin Indo Marajo di Surau Rawang Desa Kubang Tangah, Hasan Husen di KubangTungkai Kubang Tangah, Boga Matlahi di Rumah Tapanggang Kubang Tangah, Manjalani Malano Sati Guguak Jighak Kubang Tangah, Rasul Khotik Rajo di Batu Dukuang Kubang Tangah dan Taha di Lunto.

SumberTIM PENYELESAIAN  ULAYAT NAGARI KUBANG


Artikel yang berjudul “SEJARAH BERDIRINYA KOTA MADYA SAWAHLUNTO” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment