Penggiringan Opini oleh Sandiaga Uno Terkait Konser Solidaritas Ahmad Dhani - Indeks Media

Tuesday, March 12, 2019

Penggiringan Opini oleh Sandiaga Uno Terkait Konser Solidaritas Ahmad Dhani

Tingginya tingkat swing voters dan undecided voters pada pilpres 2019 kali ini tentunya masih menyisakan harapan bagi kedua kubu Capres dan Cawapres, baik itu Jokowi-Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga Uno.

Itu juga berarti kedua kubu akan semakin gencar dalam kampanye dan bahkan oleh beberapa pihak hal ini dijadikan ajang penggiringan opini menggunakan data-data yang tidak valid serta isu-isu negatif berbau kampanye hitam.

Salah satu contoh terbaru adalah pada kasus dibatalkannya konser solidaritas Ahmad Dhani oleh pihak kepolisian dikarenakan tidak memiliki izin untuk menyelenggarakan konser, dan hanya memiliki izin kampanye.

Konser yang bertajuk ‘Dewa 2019 All Star: Hadapi dengan Senyuman’ rencananya akan diselenggarakan di Grand City Convention Center, Surabaya pada hari Minggu, 10 Maret 2019 lalu.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan mengatakan konser tersebut tidak dapat dilaksanakan karena tidak mengantongi izin konser.

“Untuk hari ini tidak bisa dilaksanakan,” kata Rudi kepada sejumlah panitia, di lokasi acara, Minggu (10/3).

Rudi menyebut pihak panitia tak bisa menunjukkan surat izin konser kepada kepolisian. Melainkan, kata Rudi, panitia hanya menunjukkan izin kampanye dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Ia beranggapan konser dan kampanye merupakan hal yang berbeda. Maka meskipun rencananya konser ini akan dihadiri Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno, hal tersebut tetap harus disertai izin konser atau keramaian.

“Kampanye sama konser beda. Kampanye itu ke Bawaslu, ini konser kan dia sekarang yang mengambinghitamkan kampanye. Itu enggak boleh, kalau kampanye kan enggak menarik duit,” kata Rudi.

Rudi menegaskan bahwa pembatalan acara ini murni lantaran adanya kesalahan administrasi dari panitia, bukan karena kampanye salah satu paslon.

“Supaya tidak ada salah informasi atau pemahaman, tidak ada terkait (pembatalan kampanye) salah satu paslon, ini murni karena administrasi perizinan konser, itu belum dilengkapi,” kata Rudi.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara konser ini Didik Darmadi, mengakui bahwa pihaknya memang luput dan melakukan kesalahan. Didik mengira izin acara ini cukup hanya dengan izin kampanye Sandiaga yang diajukan pihaknya ke Polda Jatim beberapa waktu lalu.

“Saya kira izin itu hanya cukup kedatangan cawapres, tapi berhubung ini konser, kalau ada izin konser yang harus ada ya izin keramaian yang perlu diselesaikan. Saya tidak melaksanakan itu, yang selama ini saya selesaikan izin kehadiran capres cawapres,” kata Didik, ditemui di lokasi yang sama.

Untuk itu, Didik pun memohon maaf atas dibatalkannya konser solidaritas untuk Ahmad Dhani, pada hari ini. “Bahwa konser ini, dengan sangat, saya minta maaf kepada penggemar terutama panitia bahwa hari ini saya tunda dulu,” kata dia.

Kendati demikian, Didik mengaku dirinya bakal berupaya kembali merencanakan pengganti konser ini dengan menyelenggarakannya pekan depan.

“Insyaallah dalam waktu dekat, minggu depan jika gedung ini kosong saya akan menggunakan lagi tetapi polisi semua administrasi harus saya selesaikan,” kata dia.

Sayangnya kejadian yang sejatinya sudah diterima dan diakui oleh pihak panitia itu sebagai kesalahan mereka, dipelintirkan oleh Cawapres 02 Sandiaga Uno melalui cuitannya di twitter yang mengatakan bahwa dirinya baru saja mendapatkan kabar bahwa Konser Tribute To Ahmad Dhani: Hadapi Dengan Senyuman batal dilaksanakan karena tidak mendapatkan izin.

Mungkin ini hanya kesalahan penggunaan kata, tetapi juga sangat mungkin ini merupakan penggiringan opini oleh Sandiaga Uno yang mengesankan kubu mereka ‘dizolimi’ karena konser solidaritas tersebut ‘tidak mendapatkan izin’.

Padahal seperti yang bisa dibaca pada berita di atas, tidak ada yang namanya ‘tidak mendapatkan izin’, tetapi yang ada adalah panitia konser lalai mengajukan izin ke kepolisian sebelum penyelenggaraan kegiatan, yang sudah diakui oleh panitia.

Semoga ini hanyalah sekedar kesalahan penggunaan kata saja dan bukan merupakan pembentukan opini publik yang tidak berdasar dan tanpa bukti.

No comments:

Post a Comment