PKS Tidak Mau Akui Emak-Emak Pelaku Black Campaign Sebagai Kadernya, Kasus Ratna Berulang? - Indeks Media

Thursday, March 7, 2019

PKS Tidak Mau Akui Emak-Emak Pelaku Black Campaign Sebagai Kadernya, Kasus Ratna Berulang?

Penyebaran hoaks yang diluncurkan kubu 02 dan para pendukungnya semakin tidak terkendali dan semakin mengada-ngada seiring semakin dekatnya pilpres 2019 yang sudah di depan mata.

Setelah fitnah soal larangan azan dan pengesahan pernikahan sesama jenis jika Jokowi kembali menjadi presiden, kali ini muncul lagi emak-emak gila yang berasal dari Sulawesi Selatan.

Emak-emak yang memakai baju PKS itu berkampanye untuk Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan melakukan kampanye hitam ke Jokowi. Ibu tersebut mengatakan pemerintahan Jokowi akan menghapus kurikulum agama dan menghapus pesantren.

“Kalau kita pilih Prabowo itu, kita pikirkan nasib agama kita, anak-anak kita walaupun kita tidak menikmati. Tapi besok lima tahun atau 10 tahun akan datang ini, apakah kita mau kalau pelajaran agama dihapuskan oleh Jokowi bersama menteri-menterinya?” kata ibu tersebut.

“Itu salah satu programnya mereka. Yang pertama, pendidikan agama dihapus di sekolah-sekolah. Terus rencananya mereka itu menggantikan pesantren. Itu akan menjadi sekolah umum dan berbagai macam cara untuk ini,” katanya.

Kurang ajar, benar-benar keterlaluan dan busuk sekali pernyataan ini. Ini jelas-jelas fitnah yang tak bisa ditolerir.

PKS Sulsel pun tidak mengakui sosok yang melakukan kampanye hitam itu adalah kadernya. “Orang dari mana saja bisa berpakaian PKS, ya siapa saja. Bisa jadi mungkin simpatisan. Tapi yang beredar itu pasti bukan pengurus,” kata Ketua Fraksi PKS DPRD Sulsel Ariady Arsal.

Ariady mengatakan karakter kader PKS tidaklah menyebarkan hoax atau kampanye hitam. Oleh karena itu, kata dia, video yang tengah menjadi viral tersebut adalah tanggung jawab pribadi. “Kami sangat menyedihkan kalau ada orang yang menggunakan inisial PKS itu melakukan black campaign. Karena pimpinan partai sudah menyampaikan di dalam kampanye yang dilakukan tidak boleh ada sama sekali black campaign,” katanya.

Sudahlah tak perlu ngeles sana sini. Pola ini sangat jelas dan berulang entah yang ke berapa kalinya. Fitnah yang dilakukan trio emak-emak sebelumnya dengan yang sekarang memiliki pola yang sama. Persamaannya adalah fitnah dan kampanye hitam dengan menggunakan agama sebagai bahannya. Kemarin soal larangan azan dan pernikahan sesama jenis. Sekarang soal penghapusan pelajaran agama dan pesantren.

Kalau ini hanya kebetulan, ini sangat tidak masuk akal. Agama terus dijadikan sasaran tembak. Tak perlu logika rumit untuk memahami kalau agama masih menjadi komoditas yang palin laris di negara ini. Pokoknya kalau sudah dibungkus agama, hampir semua hal laku dijual. Bahkan banyak yang terpedaya.

Kembali lagi ke PKS yang menyangkal kasus ini. Protokol yang mereka gunakan selalu sama, cuci tangan. Bahkan kelihatannya PKS juga mau ikut lomba cuci tangan.

Intinya partai ini juga tengah mengusut dan mencari tahu sosok emak-emak yang mengampanyekan Jokowi dengan tuduhan akan menghapus pelajaran agama dan pesantren. Mereka heran ada oknum yang menggunakan atribut PKS dan ternyata melakukan hal yang tidak dianjurkan.

Dikatakannya, jika memang terbukti bahwa yang melakukan kampanye hitam itu adalah kadernya, akan ada sanksi. Sanksi terberat dalam struktur organisasi ini adalah pemecatan. Pemecatan doang? Bagaimana dengan efek dari fitnah yang sudah menyebar duluan? Apakah itu bisa membalikkan keadaan? Pecat memang gampang, apalagi pakai acara cuci tangan, tapi dampak destruktifnya tak bisa dibalikkan.

Maklumlah, ini emak-emak mungkin termakan hoax dari medsos atau memang sengaja atau memang ada faktor lain yang tidak kita tahu. Asumsi-asumsi yang sangat ekstrim dan tidak masuk akal sering disebar melalui medsos.

Sementara kita tahu kematangan masyarakat kita terhadap informasi masih rendah. Ada info langsung ditelan mentah-mentah tanpa mau tahu dari mana sumbernya atau apakah benar tidak isinya. ⁣Apalagi kalau sudah dibungkus dengan agama, biasanya akan langsung ditelan mentah-mentah.

Mereka kadang ikut menyebarkan ke orang lain baik langsung atau tidak langsung. Kini setiap orang pun dari semua level lapisan masyarakat dengan mudah menulis di medsos semau gue, entah itu benar atau tidak, apakah menyinggung orang lain atau tidak.

Masih banyak yang begitu mudah disulut kalau pakai isu agama meski kadan ada yang sekolah tinggi tapi logika dan nalar seolah tidak pernah dipakai dlm mencerna berita maupun doktrin yang tidak brtanggung jawab.

Mereka inilah yang dimanfaatkan habis-habisan oleh yang punya kepentingan politik demi sebuah kekuasaan. Tak peduli negara ini mau hancur lebur seperti apa. Tak boleh mereka ini sampai berkuasa.

No comments:

Post a Comment