Prabowo Mengakui Masa Lalunya yang Kelam - Indeks Media

Tuesday, March 5, 2019

Prabowo Mengakui Masa Lalunya yang Kelam

Baru-baru ini Prabowo berbicara di konsolidasi nasional Aliansi Pencerah Indonesia (API) bersama eksponen Muhammadiyah di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (3/3/2019) mengenai bagaimana di dalam duia intelijen banyak berisikan otak-otak jahat yang ingin memecah belah bangsa.

“Saya belajar ilmu militer, ilmu perang, di situ ada ilmu macem-macem, intel, ilmu sandi yudha, jadi kadang-kadang karena saya mengerti paham pelaku, jadi saya mengerti kalau ada kejadian jangan serta merta percaya pada kejadian itu,” kata Prabowo.

“Karena di dunia ini banyak otak-otak kejam, otak-otak jahat banyak yang berkumpul di dunia intelijen,” sambungnya.

Prabowo lalu menjelaskan pernyataannya itu dengan mengambil contoh kasus teror. Pelaku kasus teror bisa dicap dari kelompok tertentu padahal hal itu belum bisa dipastikan.

“Jadi umpamanya, ada aksi teror, ledakan, ledakan bom. Langsung sudah dicap yang melalukan adalah umat Islam. Padahal belum tentu, bisa umat Islam, bisa juga bukan umat Islam,” ucap Ketum Gerindra ini.

Pernyataan yang dilontarkannya ini bisa terbilang kontroversial, karena bisa menandakan Prabowo ingin memunculkan kesan bahwa Badan Intelijen Nasional (BIN) berisikan sekumpulan orang yang suka mengadu domba dan dengan mudah menyalahkan pihak-pihak tertentu, dalam hal ini conothnya adalah umat Islam.

Jadi mungkin maksud Prabowo adalah, jaringan teroris radikal yang selama ini berhasil ditumpas oleh diawasi gerak-geriknya oleh BIN hanyalah korban adu domba?

Padahal seperti diungkapkan oleh Direktur Perencanaan dan Pengendalian Kegiatan dan/atau Operasi BIN Antonius Hudidaya Bhakti di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/6/2018), “Kita tetap taat pada asas intelijen yang sudah ada aturannya, sudah ada hukumnya, sudah ada etikanya dan disumpah. Selama itu tidak berubah, saya kira asas penyelenggaraan intelijen tetap pada relnya.”

Pernyataan yang dilontarkan Prabowo pun juga menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, atau mengindikasikan bahwa itulah yang terjadi selama dia memegang jabatan dan bahkan terbilang salah satu pucuk pimpinan di masa Orde Baru tersebut.

Banyaknya pengungkapan informasi tentang kejadian luar biasa, seperti sering kita dapatkan dari corong pemerintah di masa Orde Baru misalnya, kerap mendiskreditkan golongan tertentu, yang justru terkesan direkayasa.

Bahkan kondisi kampanye saat ini yang terbilang carut marut dengan penyebaran beragam Hoax, propaganda, politisasi anak, SARA, dan lain sebagainya, bisa jadi merupakan praktik yang biasa diterapkan oleh Prabowo semasa dia masih menjabat.

Kita lihat saja beberapa fitnah yang dituduhkan kepada Jokowi, mulai dari kasus pemukulan Ratna Sarumpaet yang terbukti hoaks, hingga yang semakin tidak jelas juntrungannya seperti Jokowi akan melarang azan dan melegalkan hubungan sesama jenis.

Banyak pula informasi yang semakin santer sebagai masa kelam karir militer Prabowo, dimana berakhir dengan pemecatan dirinya sebagai Pangkostrad pada tahun 1998 melalui Keppres Nomor 62 Tahun 1998, di saat BJ. Habibie menjabat Presiden.

Ketika saat ini Prabowo menggambarkan intelijen dipenuhi dengan orang-orang berpikiran jahat, boleh jadi dia sedang menggiring opini, bahwa dunia intelijen adalah dunia kepalsuan yang tak boleh dipercaya, termasuk informasi yang berasal dari pihak mereka.

Namun Prabowo tak menyadari bahwa ada undang-undang yang mementahkan tudingannya itu. Intelijen sebagai bagian dari aparatur negara tentu harus taat kepada protap yang berlaku, jika dilanggar pasti mereka akan menghadapi konsekwensinya.

Bahkan untuk kasus terorisme saja, pihak intelijen tetap harus mendapatkan bukti awal atas kasus yang diperolehnya, baru kemudian kasusnya dapat dibawa sebagai peristiwa terorisme.

Alhasil pidato Prabowo yang satu ini tampaknya menjadi ajang buka kartu dan (lagi-lagi) propaganda bagi Prabowo dengan memainkan strategi “Saya berani mengungkapkan berarti saya bukan pelakunya” yang sepertinya sangat sering dimainkan oleh kubu mereka.

Namun, alih-alih berhasil menggiring persepsi publik tentang dunia intelijen yang serba kelam, Prabowo justru semakin membangkitkan kekecewaan masyarakat, bahwa dia sendiri menjadi bagian dari masa lalu dunia intelijen yang kelam tersebut.

No comments:

Post a Comment